WELCOME MY VISITORS :)

if you have positive thinking you will produce positive result 'cause things do not change only you change things, so be wiser and focus on solution.. =)

Kamis, 15 April 2010

EKOSISTEM UTAMA DI INDONESIA SERTA PERANANNYA DALAM KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI

Sumatera memiliki daerah seluas 476.000 km2, dan mungkin mempunyai lebih dari 10.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi, dan kebanyakan dari tumbuhan ini terdapat di daerah dataran rendah. Jumlah jenis tumbuhan yang sangat banyak terdapat di Sumatera menggambarkan satu sumber yang sangat besar dari sumber daya alam, dimana banyak diantaranya telah dibuktikan memiliki nilai ekonomi. Ekosistem utama di Indonesia memiliki beberapa jenis diantaranya ekosistem laut, ekosisitem mangrove, ekosistem sungai, ekosistem danau, ekosistem rawa, ekosistem teresterial, ekosistem pegunungan, ekosistem hutan, dan lainnya.

Kawasan laut memiliki ekosistem yang sangat vital untuk kehidupan biota laut dan manusia. Menurut kualitas, dampak menurunnya kualitas perairan terhadap biota air akan terlihat pada struktur komunitas benthos, yaitu kelimpahan individu jenis. Dengan kata lain bahwa perubahan pada struktur komunitas benthos dapat menggambarkan proses yang terjadi dalam lingkungan suatu perairan. Pencemaran suatu perairan dpat menyebabkan menurunnya kualitas perairan, yaitu berubahnya sifat-sifat fisika dan kimia air serta terganggunya kehidupan organisme perairan yang hidup di dalamnya. Ancaman yang serius terhadap kualitas perairan laut di Indonesia adalah berasal dari limbah. Hal ini mengakibatkan terganggunya nilai tata guna atau fungsi air dan menurunnya kualitas suatu perairan serta berakibat buruk bagi kehidupan organisme perairan yang hidup di dalamnya terutama hewan benthos yang hidupnya menetap di dasar perairan.

Salah satu sumber alam yang terdapat di laut adalah batu karang yang menupakan tempat hidupnya hewan lain yang ada di laut. Alasan mengapa batu karang tidak dapat hidup di bawah kedalaman laut yang tidak ditembus cahaya adalah karena kehidupan batu karang sangat bergantung kepada ganggang bersel tunggal yang disebut Zooxanthellae yang tumbuh di dalam tubuhnya. Ganggang ini membutuhkan cahaya untuk fotosintesa dan menyediakan makanan untuk kebutuhannya, serta membebaskan oksigen untuk pernapasan batu karang. Tumbuhan hijau juga terdapat di sekeliling batu karang. Sebagian dari tumbuhan ini adalah ganggang laut, tetapi yang lazim dijumpai adalah rumput laut dimana kebanyakan rumput laut tumbuh di lepas pantai Sumatera.

Mengingat nilai ekonomi yang penting dari batu karang untuk sumber makanan manusia dan untuk tempat hidup tiram mutiara, ikan hias, dan untuk kepariwisataan seharusnya penelitian tentang batu karang perlu dilakukan, karena batu karang tersebut merupakan laboratorium alamiah untuk penelitian ekologi.

Hutan rawa dan vegetasi yang berhubungan dengan rawa terbentuk di tempat-tempat yang terdapat genangan air tawar yang kaya akan mineral dimana permukaan air naik sehingaa pengeringan tanah secara periodik mungkin terjadi. Hutan rawa di Sumatera merupakan salah satu ekosistem yang memprihatinkan akibat gangguan manusia dimana hanya 22 % dari hutan rawa air tawar semula di Sumatera yang masih tersisa. Hutan rawa ini tumbuh di atas tanah alluvium air tawar yang masih muda. Vegetasi rawa beraneka ragam sebagai akibat dari keanekaragaman tanahnya. Di beberapa daerah, rawa-rawa rumput merupakan vegetasi alami, sedangkan di beberapa daerah lainnya hutan palem (pandan) yang paling menonjol. Pada kondisi-kondisi tertentu biasanya dijumpai penopang-penopang pohon yang panjang, akar-akar tunjang, dan akar nafas. Pohon-pohon hutan rawa air tawar seringkali harus bertahan terhadap genangan air yang cukup lama. Penggenangan air pada umumnya akan mengisi rongga-rongga udara yang terdapat di dalam tanah.

Hutan dataran rendah seperti yang terdapat di Sumatera merupakan ekosistem yang paling beraneka ragam dan paling menarik. Hutan dataran rendah ditandai oleh jumlah biomassa yang sngat besar dan jumlah ini dapat diukur dalam jumlah karbon yang ada. Hutan hujan tropik yang berbeda-beda mempunyai banyak persamaan dasar karena memiliki proses suksesi hutan dn mempunyai jenis-jenis ekologik pohon yang sama. Proses hutan dikenal sebagai daur pertumbuhan hutan. Pada bagian hutan terbuka akan tumbuh dengan subur jenis yang toleran terhadap sinar matahari yang selanjutnya akan menciptakan keadaan yang sesuai untuk perkecambahan biji-biji jenis pohon lain yang toleran terhadap naungan. Pertumbuhan semai itu selanjutnya akan mengambil alih tumbuhan pengisi hutan terbuka yang terdahulu. Proses yang menjadikan hutan dewasa disebut suksesi sekunder. Siklus pertumbuhan hutan dibagi atas tiga tingkatan yaitu fase rumpang, fase perkembangan, dan fase pendewasaan dimana secara bersama-sama membentuk mosaik yang terus-menerus mengalami perubahan kondisi dan bentuk.

Wilayah Republik Indonesia yang terdiri dari 17.058 pulau itu memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan jasad renik yang tinggi, termasuk tingkat endemisnya. Keanekaragaman yang tinggi akan menghasilkan kestabilan lingkungan yang mantap. Keanekaragaman ekosistem, tercakup di dalamnya genetik, jenis beserta lingkungannya. Keanekaragaman ekosistem merupakan keanekaragaman hayati yang paling kompleks. Berbagai keanekaragaman ekosistem yang ada di Indonesia misalnya ekosistem hutan, lahan basah, mangrove, terumbu karang, padang lamun dan berbagai ekosistem lainnya. yang terbentang dari mulai gunung sampai ke laut. Keanekaragaman hayati menyediakan berbagai barang dan jasa, mulai dari pangan, energi, dan bahan produksi hingga sumber daya genetik bahan dasar pemuliaan tanaman komoditas serta obat. Selain itu keanekaragaman hayati juga berfungsi untuk mendukung sistem kehidupan, seperti menjaga kualitas tanah, menyimpan-memurnikan dan menjadi reservoir air, menjaga siklus pemurnian udara, siklus karbon, dan nutrisi Indonesia menduduki posisi yang penting dalam peta keanekaragaman hayati dunia karena termasuk dalam sepuluh negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak dalam lintasan distribusi keanekaragaman hayati benua Asia (Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan) dan benua Australia (Pulau Papua) dan sebaran wilayah peralihan Wallacea (Pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara) yang memiliki keanekaragaman hayati yang kaya dengan tingkat kekhasan yang tinggi dengan tingkat endemisme masing-masing.

Indonesia juga memiliki kekayaan spesies satwa yang sangat tinggi, walaupun Indonesia hanya memiliki luas daratan sekitar 1,3 persen dari luas daratan dunia. Indonesia memiliki sekitar 12 persen (515 jenis) dari total jenis binatang menyusui (mamalia), 7,3 persen (511 jenis) dari total reptil dan 17persen (1531 jenis) dari total jenis burung di dunia, 270 jenis ampibi, 2827 jenis ikan tidak bertulang belakang, serta 47 jenis ekosistem. Selain itu sebagai bagian terbesar di kawasan Indo Malaya, Indonesia merupakan salah satu dari 12 pusat distribusi keanekaragaman genetik tanaman atau yang lebih dikenal sebagai Vavilov Centre. Keanekaragaman hayati Indonesia mengalami erosi yang tinggi, yang apabila tidak segera dihentikan akan merosot terus menerus. Sekitar 20–70 persen habitat asli telah lenyap. Walaupun sulit dipastikan, diperkirakan satu spesies punah setiap harinya. Sementara penyusutan keanekaragaman genetik, terutama di spesies liar, belum terdokumentasi dengan baik padahal sumber daya genetik yang ada belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Berbagai penyebab penurunan keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem antara lain konversi lahan, pencemaran, exploitasi yang berlebihan, praktik teknologi yang merusak, masuknya jenis asing, dan perubahan iklim. Berikut beberapa illustrasi kerusakan keanekaragaman hayati pada tingkat ekosistem, jenis/spesies dan genetik.

Ekosistem hutan mengalami ancaman berupa penebangan hutan (deforestasi), fragmentasi dan konversi menjadi bentuk pemanfaatan lain. Diperkirakan bahwa penggundulan hutan di Indonesia mencapai 1,6 juta ha/tahun atau tiga ha per menit hingga dua juta ha/tahun. Jika penggundulan hutan terjadi secara terus menerus, maka akan mengancam spesies flora dan fauna dan merusak sumber penghidupan masyarakat. Pembukaan jalan dalam kawasan yang dilindungi lebih banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan. Saat ini kekhawatiran banyak pihak akan dampak dari pembangunan jalan di kawasan lindung akan terulang kembali karena adanya rencana pembangunan jalan Ladia Galaska yang memotong kawasan Ekosistrem Leuser di Provinsi Nagroe Aceh Darussalam, yang meliputi antara lain hutan lindung, hutan konservasi (taman buru dan taman nasional), hutan produksi dan lain sebagainya. Indonesia mempunyai lahan basah (termasuk hutan rawa gambut) terluas di Asia, yaitu 38 juta ha yang tersebar mulai dari bagian timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku sampai Papua. Tetapi luas lahan basah tersebut telah menyusut menjadi kurang lebih 25,8 juta ha. Penyusutan lahan basah dikarenakan berubahnya fungsi rawa sebesar 37,2 persen dan mangrove 32,4 persen. Luas hutan mangrove berkurang dari 5,2 juta ha tahun 1982 menjadi 3,2 juta ha tahun 1987 dan menciut lagi menjadi 2,4 juta ha tahun 1993 akibat maraknya konversi mangrove menjadi kawasan budidaya.

Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990, konservasi sumberdaya alam hayati, diberi batasan dengan pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Konservasi sumberdaya alam hayati dilakukan melalui tiga kegiatan, yaitu: (1) perlindungan sistem penyangga kehidupan; (2) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (3) pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam konteks ini, konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity) merupakan bagian tak terpisahkan dari pengertian konservasi sumberdaya alam hayati. Selain itu, dengan ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Convention) oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994, konservasi keanekaragaman hayati telah menjadi komitmen nasional yang membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat.

Luas hutan hujan tropika di dunia hanya meliputi 7 % dari luas permukaan bumi, tetapi mengandung lebih dari 50 % total jenis yang ada di seluruh dunia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hutan hujan tropika merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di dunia. Laju kerusakan hutan hujan tropika yang relatif cepat (bervariasi menurut negara) telah menyebabkan tipe hutan ini menjadi pusat perhatian dunia internasional. Meskipun luas Indonesia hanya 1.3 % dari luas bumi, tetapi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, meliputi : 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga, 12 % dari total jenis mamalia, 16 % dari total jenis reptilia, 17 % dari total jenis burung dan 25 % dari total jenis ikan di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi pusat perhatian dunia internasional dalam hal keanekaragaman hayatinya. Indonesia memiliki luas hutan hujan tropika yang terluas di Asia tropis. Pada saat ini, luas kawasan hutan Indonesia adalah 144 juta hektar, 64.4 juta hektar di antaranya berstatus hutan produksi (tetap dan terbatas). Dari seluruh kawasan hutan ini, 108.6 juta ha di antaranya masih berhutan dan meliputi 7 tipe utama hutan dengan variasi hingga 18 tipe hutan, termasuk hutan bambu, hutan nipah, hutan sagu dan hutan savana.


DAFTAR PUSTAKA

Akhmad. 2005. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Hutan Alam. Diambil dari http:// www.keanekaragamanhayati.com (9 Maret 2009) (16.00 WIB)

Khiatuddin, M. 2003. Melestarikan Sumber Daya Air dengan Teknologi Rawa Buatan. UGM Press. Yogyakarta

Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 20 02 VII – 1. Diambil dari http:// www.ekosistemutamaindonesia.com (9 Maret 2009) (16.00 WIB)

Oey, B.L. 1978. Faktor-faktor Penentu dalam Ekosistem Sungai. Seminar Pengendalian Pencemaran Air. Dirjen Pengairan Departemen PU. Bandung

Soesilo, I., dkk. 2000. Ekosistem Pantai Indonesia. Yayasan Suryono. Bandung

Sutamihardja, R.T.M. 1992. Pengelolaan Kalitas dan Pencemaran Air. Seminar on Industrial Water Pollution Control and Water Quality Manegement. Jakarta

Whitten, A.J. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Diterjemahkan oleh Damanik. UGM Press. Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar