WELCOME MY VISITORS :)

if you have positive thinking you will produce positive result 'cause things do not change only you change things, so be wiser and focus on solution.. =)

Senin, 05 April 2010

VINIR DAN KAYU LAPIS (VENEER AND PLYWOOD)

A. Pengertian
Finir adalah lembaran kayu tipis dari 0,24 mm sampai 0,6 mm yang diperoleh dari penyayatan (pengupasan) dolok kayu jenis-jenis tertentu.dengan ketebalan sama dan lebih kecil dari 6 mm. Ketebalan diatas batas ini digolongkan ke dalam jenis papan. Penggunaan utama dari finir adalah untuk pembuatan kayu lapis (plywood), di mana beberapa lembar finir direkat menjadi satu dengan arah serat yang saling tegak lurus dalam jumlah yang ganjil. Finir dapat juga dibuat menjadi papan lamina (laminated wood) di mana lembaran-lembaran finir direkat menjadi satu dengan arah serat yang sama. Finir juga digunakan dalam pembuatan papan balok (block board) di mana lapisan muka dan belakang adalah finir (lapisan luar) dan lapisan tengah adalah potongan kayu memanjang disusun berdampingan. Selain untuk pembuatan kayu lapis, papan lamina dan papan balok, finir juga diproduksi untuk pembuatan kotak dan batang korek api, tusuk gigi dan lain-lain.
Kayu lapis adalah (plywood) adalah papan buatan dengan ukuran tertentu yang terbuat dari beberapa lapisan finir. Plywood dengan tiga lapis disebut tripleks, atau three-ply, lapis 5 (5 ply),, lapis 7 (7 ply), lapis 9 (9 ply). Lapis 5 dan selebihnya disebut pula multipleks atau multiply.
Maksud dan tujuan pembuatan finir dan kayu lapis untuk mendapatkan papan yang berukuran lebar. Selain itu juga untuk :
a. menghemat penggunaan kayu
b. memanfaatkan jenis-jenis kayu bernilai rendah
c. menambah kekuatan serta meningkatkan mutu kayu dengan memperindah segi
dekoratif kayu.
B. Cara Pembuatan Finir
Finir dapat dibuat dengan dua macam cara, yaitu ;
1. Dengan pisau, terutama untuk pembuatan finir yang tipis.
2. Dengan gergaji untuk menghasilkan finir yang lebih tebal.
a. Dengan Pisau
Secara umum dikenal 2 macam cara mesin kupas yaitu :
1). Mesin Kupas (peelerirotary), kayu diputar berlawanan dengan mata pisau. Pisau akan memotong atau mengupas kayu setebal finir yang dikehendaki. Mengerjakan dengan cara ini akan menghasilkan finir yang lebar sekali dan dapat digulung dengan alat penggulung. Selanjutnya dipotong menurut standar ukuran.
2) Mesin Kupas Kerat (slicer). Pisau bergerak horizontal (maju dan mundur) dan ada juga yang bergerak vertikal (naik turun). Dengan cara ini akan didapatkan finir yang lebih banyak dan pola gambar yang baik pula.
b. Dengan gergaji
Kayu bulat pertama-tama dibelah dua dengan gergaji. Setelah itu digergaji dengan gergaji pita untuk dijadikan finir. Dengan cara ini banyak kayu terbuang, serta memakan waktu cukup lama. Keuntungannya, adalah pengerjaan kayu tanpa diuapkan atau direbus lebih dahulu
C. Bahan Pokok
Kayu yang dibuat finir adalah dari jenis-jenis kayu yang lunak, ringan, kelas kuat dan kelas awetnya sekitar II-IV dan bila dikupas tidak mudah pecah. Jenis kayu yang biasa dipergunakan adalah sebagai berikut :
a. Meranti (Shorea spp.)
b. Keruing (Dipterocarpus spp.)
c. Kapur (Dryobalanops aromatica)
d. Kempas (Koompasia spp.)
e. Merawan (Hopea spp.)
f. Mangir (Canophyllum spp.)
g. Agathis (Damar) (Agathis spp.)
Sedangkan untuk pembuatan finir indah (fancy veneer) digunakan jenis-jenis kayu yang berkualitas tinggi dengan nilai dekoratif yang indah dan menarik, misalnya :
a. Jati (Tectona grandis)
b. Sonokeling (Dalbergia laetifolia)
c. kayu hitam (Ebony) (Diospyros spp.)
d. Sonokembang (Pterocarpus indicus)
e. Rengas (Gluta rengas)
f. Kuku (Periopsis mooniana)
D. Proses Pembuatan Finir
Proses pembuatan finir dimulai dengan pemotongan kayu menjadi ukuran yang dikehendaki, pemberian perlakuan pendahuluan, pembersihan, pengirisan atau pengupasan menjadi finir, pemotongan finir menjadi lembaran yang dikehendaki untuk kemudian dikeringkan, atau untuk finir-finir muka / face dan belakangan / back biasanya dari pisau pengupas kemudian finir digulung dan dikeringkan untuk selanjutnya dipotong menjadi ukuran yang dikehendaki, setelah itu baru finir-finir tadi dikelompokkan dan bila perlu diperbaiki.
1. Pemanasan
Sebelum diadakan pemotongan finir maka finir terlebih dahulu dipanaskan. Pemanasan dilakukan untuk melunakkkan kayu dan mata-mata kayunya yang membuatnya lebih mudah untuk dipotong. Pemanasan juga untuk meningkatkan kualitas permukaan, dan mengurangi kekasaran.
Baldwin menyebutkan ada empat keuntungan memanasi kayu bulat :
a. Hasil finir yang lebih tinggi dapat diperoleh dari kayu bulat.
b. Kualitas finir meningkat
c. Biaya buruh berkurang
d. Jumlah perekat dapat dikurangi
Pemanasan dapat dilakukan dengan mengukus (uap panas), atau menyemprotkan air panas bersuhu 93o C. Pemanasan ini dilakukan beberapa saat sebelum blok dikupas menjadi finir.
2. Pengupasan
Pengupasan dilakukan menggunakan pisau statis yang dikasitkan pada blok kayu yang berputar. Hasil pengupasan ini berupa lembaran tipis kayu yang disebut finir. Pengupasan dilanjutkan hingga diameter blok tinggal 5,5 sampai 4,0 inchi. Oleh karena finir hasil pengupasan masih berupa lembaran yang memanjang maka pada proses selanjutnya finir dipotong-potong sesuai dengam ukuran panjang plywood yang telah ditentukan.
3. Penyimpanan dan pemotongan
Penyimpanan yang dimaksud di sini adalah bukanlah seperti penyimpanan barang digudang atau sejenisnya. Yang dimaksudkan hanyalah penyimpanan sementara sebelum finir dipotong sesuai ukuran.
Penyimpanan dapat dilakukan dengan 2 cara yakni sistem gulungan dan sistem konveyer. Sistem gulungan dirasakan kurang praktis dan lebih lambat dibandingkan dengan sistem konveyer. Hal ini disebabkan pada sistem gulungan finir mesti disusun berbentuk gulungan terlebih dahulu sebelum dibawa ke mesin pemotong untuk dipotong sesuai ukuran. Sementara pada sistem konveyer mesin pemotong diletakkan satu jalur dengan mesin pengupas sehingga memungkinkan pemotong dilakukan lebih cepat.
4. Pengeringan Finir
Pengeringan finir dilakukan dengan menyemprotkan udara panas ke permukaan finir. Suhu yang dibutuhkan untuk pengeringan ini mencapai
300o C. Dengan suhu setinggi ini diharapkan diperoleh kestabilan yang merata ke seluruh bagian finir dan memudahkan proses perekatannya.
5. Perekatan
Sebelum lembaran disusun seperti yang diinginkan, terlebih dahulu permukaan finir disemprot dengan perekat. Biasanya digunakan perekat sintesis thermosetting yang biasa mengeras akibat terkena panas. Jenis perekat yang biasa digunakan adalah Urea Formaldehide dan Fenol formaldehyde.
Dalam pebuatan kayu lapis bahan perekat merupakan faktor penting kerena bersifat mempersatukan lembaran-lembaran finir menjadi satu ketebalan tertentu. Berdasarkan sifat-sifatnya perekat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu :
a. perekat tahan kelembaban (moisture resistance)
b. perekast tahan panas dan cuaca (dry resistance )
c. perekat tahan air (water resistance)
Berdasarkan penggolongannya perekat terbagi atas ;
a. perekat berasal dari tumbuh-tumbuhan : perekat tapioka, kedelai, perekat
biji kapuk dan lain-lain.
b. perekat yang berasal dari hewan : perekat kasein, perekat darah (albumim) dan lain-lain.
c. perekat sintesis : perekat yang dibuat dari sintesis antara lain ureaformaldehid, termosetting, fenol formaldehid, resoresinol, formaldehid dan lain-lain.
Jenis-jenis perekat di atas digunakan untuk menghasilkan kayu lapis yang perlu benar-benar menghasilkan kayu lapis yang yang berkualitas baik, yiatu :
a. kayu lapis yang tahan terhadap air
b. kayu lapis yang tahan udara lembab
c. kayu lapis yang tahan terhadap suhu panas
6. pelaburan dan penyusunan finir
Setelah finir muka (face) dan inti (core) disusun seperti yang dikehendaki, kemudian dilakukan pengepresan menggunakan mesin dengan tekanan berkisar 110 – 200 psi tergantung pada jenis dan kerapatan plywood yang diinginkan.
7. Penyelesaian
Dari mesin press, kayu lapis tersebut menuju mesin gergaji untuk dibuat ukuran-ukuran standar arah memanjang dan melebar kayu lapis tersebut. Dan selanjutnya kayu lapis masuk pada mesin amri untuk dihaluskan bidang permukaannya, sekaligus diadakan pengujian kualitas. Kemudian diangkut dengan forklift untuk disimpan di dalam gudang, disusun dengan baik dalam susunan mendatar di atas landasan yang jarak dari lantai 10 – 20. lantai harus terlindungi dari kelembaban, begitu pula keadaan gudang.
E. Sifat-Sifat Umum Kayu lapis
1. Tipe-tipe kayu lapis
Umumnya kayu lapis diklasifikasikan ke dalam dua tipe yaitu :
1) Tipe penggunaan di dalam (interior use )
2) Tipe penggunaan di Luar (ekterior use)
2. Kekuatan Lengkung dan kekuatan (stiffnes) :
Sifat kekuatan dan sifat kaku adalah suatu syarat yang baik bagi kayu lapis, sehingga bahan bangunan yang kuat yang kuat. Lebih banyak lapisan pada kayu lapis semakin merata pembagian kekuatan pada lapis tersebut.
3. Kekuatan Geser dan Kekuatan Menahan paku
Dengan memasang finir bersilangan,kayu lapis menjadi kuat tahan geseran ke arah , begitu pula halnya dengan kekuatan menahan paku, sehingga pada waktu pada pemakuan tidak pecah walaupun dipaku pada bagian tepinya.
4. Kekuatan terhadap pukulan dan Benturan :
Kayu lapis mempunyai kekuatan terhadap pukulan dan benturan, oleh karenanya sesuai sekali untuk dipergunakan sebagai dasar lantai, penutup dinding dan lain kegunaannya.
5. Pengerjaan
Kayu lapis merupakan bahan jadi, mudah dikerjakan. Dapat dipotong menjadi berbagai ukuran dan bentuk, mudah dipaku ataupun disekrup dan tidak dikuatirkan akan pecah. Kayu lapis dapat dikatakan suatu bahan yang memiliki kestabilan dimensi.
F. Mutu Kayu Lapis
1. Persayaratan Umum
Persyaratan umum meliputi hal ukuran (Tebal, panjang dan lebar, kadar air kayu lapis dan keadaan finir penyusun kayu lapis, baik finir luar maupun finir dalam.
2. Persyaratan Khusus
Meliputi keadaan finir luar dan dalam. Finir luar terdiri atas finir muka dan finir belakang. Dengan adanya cacat-cacat pada finir luar dan dalam, maka dapat dibedakan beberapa macam mutu yang ditulis dalam huruf besar seperti A, B, C dan seterusnya.
3. Persyaratan Keteguhan Rekat
Keteguhan rekat menggambarkan baik tidaknya perekat yang mengikat finir penyusun kayu lapis.
4. Persyaratan Kekuatan dan Keawetan
Untuk kayu lapis biasa umumnya belum dituntut persyaratan kekuatan. Tetapi untuk kayu lapis biasa umumnya belum dituntut persaratan kekuatan.
G. Perawatan Kekuatan dan Keawetan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan kayu lapis :
  1. Kayu lapis hendaknya disimpan secara mendatar dan rata (horizontal)
  2. Permukaan kayu lapis dijaga terhadap kemungkinan kerusakan yang disebabkan oleh benturan, gesekan dan lain sebagainya.
  3. Bagian tepi dan sudut dari kayu lapis perlu dilindungi, terutama kayu lapis yang sudah dironci (dialur).
  4. Mengangkat lembaran kayu lapis dengan cara memegang bagian tepinya, dan hindari terjadinya kerusakan pada permukaan, tepi dan sudut.
  5. Melindungi kayu lapis dari sinar matahari langsung, air atau kelembaban yang berlebihan sewaktu disimpan.
  6. Kayu lapis yang akan digunakan, hendaknya dibeli pada saat pengerjaan untuk itu akan dimulai. Kecuali ada gudang penyimpanan yang memenuhi syarat.
H. Penggolongan Kayu lapis
Kayu lapis dapat dibedakan atas bemacam-macam tipe yang didasarkan atas beberapa penggolongan yaitu :
a. Berdasarkan Kelompok
1) Kayu lapis dari jenis kayu daun jarum
2) Kayu lapis dari jenis kayu daun lebar
b. Berdasarkan Jenis bahan yang dipakai
1) Kayu lapis serba kayu
2) Kayu lapis campuran (kayu dan material/ logam)
c. Berdasarkan ketahanan perekatnya
1) Kayu lapis eksterior
2) Kayu lapis interior
d. Berdasarkan Jumlah lapisnya
1) Kayu lapis (tripleks)
2) Lebih dari tiga lapis (multipleks)
e. Berdasarkan Tebal lapisan Finir
1) Kayu lapis dengan tebal finir serba sama
2) Kayu lapis dengan tebal tidak sama
f. Berdasarkan corak keindahan
1) Kayu lapis biasa (ordinary plywood)
2) Kayu lapis indah (fancy plywood)
Beberapa keuntungan yang diperoleh dari penggunaan kayu lapis jika
dibandingkan dengan penggunaan kayu massif adalah :
a) Kembang susut pada arah memanjang dan melebar jauh lebih kecil, sehingga merupakan bahan yang memiliki stabilitas dimensi yang lebih baik,
b) Mempunyai ketahanan lebar besar terhadap belahan dan retak.
c) Memungkinkan penggunaaan lembaran-lembaran papan yang lebih besar.
d) Memungkinkan penggunaan lembaran-lembaran papan berbentuk kurva.
e) Memunkinklan kayu lapis digunakan lebih efisien
f) Ringannya kayu lapis hinga memudahkan perlakuan kayu lapis pada pembuatan-pembuatan barang tertentu.
g) Memungkinkan mendapat efek nilai dekoratif yang lebih luas
h) Mampu menahan paku dan sekrup lebih baik.
I. Penggunaan kayu lapis
Beberapa penggunaan kayu lapis yang dianggap penting anatara lain :
a. Bangunan
1) Rangka
2) Dinding
3) Langit-langit
4) Lantai
5) Pintu (pelapis daun pintu)
b. Alat-alat transportasi
1) Interior di mobil
2) Interior di kereta api
3) Interior di pesawat terbang
4) Interior di kapal laut
c. perabot rumah tangga
d. bahan pengemas : kopor, tas, dan lain kegunaan yang ada hubungan dengan
kemasan .
e. barang-barang industri : radio, televisi, cabinet mesin jahit, baki, alat-alat
rumah tangga lainnya.
f. Barang-barang kerajinan : kap lampu, hiasan dinding, alat alat kantor, serta
variasi mainan anak-anak.
J. Industri dan Pemasaran Kayu Lapis
Pada tahun 1974/1975 catatan investasi indusstri finir dan plywood di Indonesia menunjukkan angka-angka sebagai berikut :
1. Gross value of output per unit raw material : US.$ 125
2. Investment per unit raw material : US.$ 90,-
3. Rate of Capital Turn Over / Gross Value of output per investment : US.$ 90,-
Dalam periode tahun 1983 / 1984, terdapat 22 unit industri kayu lapis HPH yang mengajukan aplikasi perluasan pabrik atau pendirian pabrik baru, dengan jumlah kapasitas produksi 1.322.626 m3/tahun. 12 unit diantaranya telah mencapai SPT BKPM dengan kapasitas produksi sebesar 689.400 m3/tahun.
Industri kayu lapis sejak tahun 1980 sampai , yaitu sejak ditempuh kebijaksanaan pemerintah di bidang kehutanan ( yang dikenal dengan SKBTM), berkembang cukup pesat. Volume eksport kayu lapis indonesia meningkat cukup pesat. Kalau pada tahun 1980 ekspor baru mencapai ± 245 ribu m3, maka pada tahun 1980 eksport 1984 telah mencapai ± 3.045 ribu m3. namun kenaikan volume ini tidak diimbangi dengan kenaikan untuk nilai setiap satuan. Pada tahun 1983 nilai setiap satuan dapat mencapai ± US. $ 242 / m3, kemudian tyurun cukup tajam pada tahun 1984 menjadi ± US. $ 216 / m3. Meskipun demikian, nilai devisa secara keseluruhan meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Atmosuseno, B.S. dan Khaeruddi Duljafar. 1996. Kayu Komersial. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Departemen kehutanan. 1976. Vademecum Kehutanan Indonesia. Direktorat
Jendral Kehutanan, Jakarta.
___________________. 1999. Panduan Kehutanan Indonesia. Koperasi Karyawan
Departemen kehutanan dan Perkebunan, Jakarta.
___________________. 2000. Hand Book of Indonesian Forestry. Koperasi
Karyawan Departemen Kehutanan, Jakarta.
Dumanauw, J.F., 1990. Mengenal Kayu. Kanisius, Jakarta.
Haygreen, J.G. dan Jim L. Bowyer. 1995. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu
Pengantar. Gadja Mada University Press, Yokyakarta
Junus, M., A.R. Warasaka, J.J. Franz, M. Rusmaedy, Sudirman, S.N. Digut, M. Sila.
1989. Dasar Umum Ilmu Kehutanan. Buku II. Badan Kerjasama Perguruan
Tinggi Negeri Indonesia bagian timur. Lembaga Penerbitan Universitas
Hasanuddin, Ujung Pandang.
Soetomo, 2001. Industri Pengolahan Kayu. Majalah Kehutanan Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar